Thoriqoh Shiddiqiyyah

Puasa Senin-Kamis

Oleh Al-Kautsar | 2 September 2012

Tags:

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Kepada Bapak Kholifah Tasrichul Adib Aziz, pengasuh rubrik konsultasi majalah Al-Kautsar yang saya hormati.   
Melalui media ini saya ingin bertanya mengenai puasa Senin Kamis. Banyak orang melakukan puasa Senin Kamis, tetapi sepertinya kurang faham maksud dan tujuannnya seperti apa, termasuk saya sendiri. Mohon penjelasan dari Bapak Kholifah. Terima kasih
Wassalamu'alaikum  Wr. Wb.
Dari:Tantowi-Surabaya

Jawaban :

Puasa yang disunahkan itu banyak macamnya, antara lain adalah:

  1. Puasa enam hari di bulan Syawwal, sebagaimana hadits dari Abu Ayub Al- Arshari. Rosululloh S.A.W. bersabda: Barang siapa yang berpuasa di bulan Romadlon, kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti puasa selama setahun.
  2. Puasa tanggal delapan dan tanggal sembilan bulan Dzulhijjah yang disebut puasa Tarwiyah dan puasa hari Arofah bagi orang yang tidak melaksanakan ibadah haji disunahkan untuk berpuasa.
  3. Puasa  di bulan Muharrom,  terutama  pada tanggal sembilan, sepuluh, dan sebelas Muharrom.
  4. Puasa di bulan Rojab
  5. Puasa di bulan Sya'ban
  6. Puasa tiga hari pada tiap bulan
  7. Puasa pada hari Senin dan Kamis

Dan  hikmah  serta  keistimewaan  daripada puasa itu juga banyak sekali antara lain ialah:

  1. Di S.Al Ahzab ayat 35 disebutkan bahwa orang yang berpuasa itu akan mendapatkan ampunan dan pahala yang besar dari Alloh.
  2. Dalam  hadits  qudsi  dari  Abi  Huroiroh  disebutkan bahwa semua amal yang dikerjakan oleh anak Adam itu untuk anak Adam itu tersendiri, kecuali puasa. Kalau amal puasa itu untuk Alloh SWT. Hanya Alloh tersendiri yang akan membalasnya.
  3. Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa: As Shoumu Jannatun maksudnya adalah: Puasa itu adalah perisai dari kemaksiatan.
  4. Sahabat Abu Umamah Al- Bahili pernah datang kepada Rosululloh dan berkata: Perintahkanlah aku melakukan sesuatu yang khusus dari mu ya Rosul. Rosul berkata: “Alaika bis shoumi fainnahu la mitsla lahu.” Artinya: Berpuasalah kamu sesungguhnya puasa itu tidak ada tandingannya.
  5. Yang terpenting  adalah  sebagaimana  tersebut dalam  S.  Al-Baqoroh  ayat  183  disebutkan bahwa tujuan daripada puasa adalah agar kita menjadi orang yang taqwalloh.

Mengenai puasa Senin dan Kamis memang ada sebagian umat Islam yang mengerjakannya demi untuk mencapai cita-cita tertentu. Ada yang berkeinginan agar menjadi lebih cerdas dan bisa lulus ujian. Dan ketika puasa Senin dan Kamis dilaksanakan secara rutin, cita-citanya terkabul. Ada pula orang yang sering sakit-sakitan,  kemudian setelah ia melakukan puasa Senin Kamis secara rutin, akhirnya penyakitnya sembuh. Dan hal yang demikian itu boleh-boleh saja. Karena sesuatu cita-cita yang baik kemudian diikuti dengan berpuasa, InsyaAlloh segera terkabulkan.

Adapun yang mendasari puasa pada hari Senin dan Kamis adalah hadits-hadits yang artinya di bawah ini:

  1. Abu Qotadah R.A. berkata, pernah Rosululloh ditanya tentang puasa hari Senin, jawab beliau : “Hari itu saya dilahirkan dan hari itu saya diutus dan hari itu Al Quran diturunkan," Riwayat Muslim
  2. Abu Huroiroh berkata bahwa Rosululloh S.A.W bersabda: Amal perbuatan itu diperiksa setiap hari Senin dan Kamis. Maka aku suka diperiksa amalku ketika aku sedang berpuasa,” Riwayat Tirmidzi

Berdasarkan hadits di atas maka kita mengerjakan puasa Senin dan Kamis mempunyai suatu tujuan:

  1. Kita mengikuti tauladan Rosululloh yang selalu berpuasa Senin dan Kamis.
  2. Dengan  puasa  hari  Senin,  kita  akan  selalu bertambah cinta kepada Rosululloh, dapat mensyukuri kelahiran beliau, mensyukuri keutusannya, dan kita akan semakin cinta kepda Al-Quran.
  3. Dengan selalu berpuasa Senin dan Kamis, kita akan selalu instropeksi terhadap amal-amal kita setiap hari karena amal kita setiap hari Senin dan Kamis akan dinilai oleh Alloh SWT
  4. Dengan puasa Senin dan Kamis, maka kita akan segera bisa sampai kepada suatu tujuan yaitu menjadi insan Taqwalloh. Amin.

Alhamdulillahirobbil’alamin.

Tasrichul Adib Aziz, Kholifah Shiddiqiyyah